Jumat, 26 Maret 2010

MEKANISME PERTAHANAN GINGIVA

SISTEM KEKEBALAN
Sistem kekebalan terdiri dari sel-sel dan zat-zat yang bisa larut. Sel-sel utama dari sistem kekebalan adalah sel-sel darah putih, yaitu makrofag, neutrofil dan limfosit. Zat -zat yang bisa larut adalah molekul-molekul yang tidak terdapat di dalam sel tetapi larut dalam suatu cairan (misalnya plasma). Zat-zat terlarut yang utama adalah antibodi, protein komplemen dan sitokinesis. Beberapa zat terlarut bertindak sebagai pembawa pesan (messenger) untuk menarik dan mengaktifkan sel-sel lainnya. Molekul kompleks histokompatibiliti mayor merpakan jantung dari sistem kekebalan dan membantu mengenali benda asing.2
Makrofag

Makrofag adalah sel darah putih yang berukuran besar, yang mencerna mikroba, antigen dan zat-zat lainnya. Antigen adalah setiap zat yang bisa merangsang suatu respon kekebalan; antigen bisa merupakan bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker dan racun. Sitoplasma makrofag mengandung granula yang terdiri dari beberapa bahan kimia dan enzim yang terbungkus dalam suatu selaput.Enzim dan bahan kimia ini memungkinkan makrofag mencerna dan menghancurkan mikroba yangtertelan olehnya.
Makrofag tidak ditemukan di dalam darah, tetapi terdapat di tempat-tempat strategis, dimana organ tubuh berhubungan dengan aliran darah atau dunia luar.
Misalnya makrofag ditemukan di daerah dimana paru-paru menerima udara dari luar dan sel-sel hati berhubungan dengan pembuluh darah.2
Neutrofil
Neutrofil adalah sel darah putih yang berukuran besar, yang mencerna mikroba dan antigen lainnya.Neutrofil memiliki granula yang mengandung enzim untuk menghancurkan antigen yang ditelan olehnya. Neutrofil ditemukan di dalam darah; untuk keluar dari darah dan masuk ke dalam jaringan, neutrofil memerlukan rangsangan khusus.
Makrofag dan neutrofil seringkali bekerja sama; makrofag memulai suatu respon kekebalan dan mengirimkan sinyal untuk menarik neutrofil bergabung dengannya di daerah yang mengalami gangguan. Jika neutrofil telah tiba, mereka menghancurkan benda asing dengan cara mencernanya. Penimbunan neutrofil serta pemusnahan dan pencernaan mikroba menyebabkan pembentukan nanah.2

Limfosit

Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening, memiliki ukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag dan neutrofil. Neutrofil memiliki umur tidak lebih dari 7-10 hari, tetapi limfosit bisa hidup selama bertahun-tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun.Limfosit dibagi ke dalam 3 kelompok utama:
1. Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang dan tumbuh menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibodi.
2. Limfosit T terbentuk jika sel stem dari sumsum tulang pindah ke kelenjar thymus, dimana mereka mengalami pembelahan dan pematangan. Di dalam kelenjar thymus, limfosit T belajar membedakan mana benda asing dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa meninggalkan kelenjar thymus dan masuk ke dalam pembuluh getah bening dan berfungsi sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan.
3. Sel-sel pemusnah alami, memiliki ukuran yang agak lebih besar daripada limfosit T dan B, dinamai sel pemusnah karena sel-sel ini membunuh mikroba dan sel-sel kanker tertentu. Istilah alami digunakan karena mereka siap membunuh sejumlah sel target segera setelah mereka terbentuk, tidak perlu melewati pematangan dan proses belajar seperti pada limfosit T dan limfosit B. Sel pembunuh alami juga menghasilkan beberapa sitokinesis (zat-zat pembawa pesan yang mengatur sebagian fungsi limfosit T, limfosit B dan makrofag). 2

Antibodi
Jika dirangsang oleh suatu antigen, limfosit B akan mengalami pematangan menjadi sel-sel yang menghasilkan antibodi. Antibodi merupakan protein yang bereaksi dengan antigen yang sebelumnya merangsang limfosit B. Antibodi juga disebut immunoglobulin. Setiap molekul antibodi memiliki suatu bagian yang unik, yang terikat kepada suatu antigen khusus dan suatu bagian yang strukturnya menerangkan kelompok antibodi
Terdapat 5 kelompok antibodi:
1. IgM adalah antibodi yang dihasilkan pada pemaparan awal oleh suatu antigen.
Contohnya, jika seorang anak menerima vaksinasi tetanus I, maka 10-14 hari kemudian akan terbentuk antibodi antitetanus IgM (respon antibodi primer). IgM banyak terdapat di dalam darah tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan di dalam organ maupun jaringan.
2. IgG merupakan jenis antibodi yang paling umum, yang dihasilkan pada pemaparan antigen berikutnya.
Contohnya, setelah mendapatkan suntikan tetanus II (booster), maka 5-7 hari kemudian seorang anak akan membentuk antibodi IgG. Respon antibodi sekunder ini lebih cepat dan lebih berlimpah dibandingkan dengan respon antibodi primer.
IgG ditemukan di dalam darah dan jaringan. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dipindahkan melalui plasenta dari ibu ke janin di dalam kandungannya. IgG ibu melindungi janin dan bayi baru lahir sampai sistem kekebalan bayi bisa menghasilkan antibodi sendiri.
3. IgA adalah antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadp masuknya mikroorganisme melalui permukaan yang dilapisi selaput lendir, yaitu hidung, mata, paru-paru dan usus.
IgA ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh (pada saluran pencernaan, hidung, mata, paru-paru, ASI).
4. IgE adalah antibodi yang menyebabkan reaksi alergi akut (reaksi alergi segera).
IgE penting dalam melawan infeksi parasit (misalnya river blindness dan skistosomiasis), yang banyak ditemukan di negara berkembang.
5. IgD adalah antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah. Fungsinya belum sepenuhnya dimengerti.2

SistemKomplemen
Sistem komplemen mengandung lebih dari 18 macam protein. Protein-protein ini bertindak dalam suatu kaskade, dimana satu protein mengaktifkan protein berikutnya.
Sistem komplemen bisa diaktifkan melalui 2 cara yang berbeda:
3. Jalur alternatif : diaktifkan oleh produk mikroba tertentu atau antigen
4. Jalur klasik : diaktifkan oleh antibodi khusus yang terikat pada antigen (komplekimun)
Sistem komplemen berfungsi menghancurkan benda asing, baik secara langsung maupun bergabung dengan komponen sistem kekebalan lainnya.2


Mekanisme Pertahanan Gingiva
Jaringan gingival mendapat iritasi mekanis dan bakteri secara terus menerus.Oleh karena itu saliva,permukaan epitel,dan tahap awal dari respon inflamasi membuat gingival resisten terhadap segala jenis iritan tersebut.Di sini akan dijelaskan mengenai permeabilitas dari junctional epithelium dan sulkuler epithelium, pertemuan dento-gingivadan peranan dari cairan sulkuler,leukosit,serta saliva.3
A.Cairan Sulkuler.
Fungsi dari cairan sulkuler dan cairan crevicular gingival ini telah diketahui sejak abad ke 19,akan tetapi komposisi dan kemungkinan peranannya dalam mekanisme pertahanan rongga mulut baru diawali oleh penelitian dari Waerhaug,Brill,dan Krasse pada tahun 1950.3
B. Pertemuan Dento alveolar
Serabut gingival memiliki fungsi penting untuk menahan perlekatan gingival dan epitel ke permukaan gigi. Epitellium jungsional dan serabut gingival bertindak sebagai satu unit fungsional, yaitu dentogingival junction.1
C.Permeabilitas dari Junctional epithelium dan sulkuler epithelium.
Squier dan Johnson telah melaporkan mekanisme penetrasi yang melalui suatu epitel yang utuh.Perpindahan antar sel dari molekul-molekul dan ion sepanjang ruang antar sel tampak sebagai mekanisme yang memungkinkan.Substansi yang berpindah ini tidak melewati membran sel.3
Epitellium jungsional adalah sel sel basal dari stratum spinosum tidak berkeratin yang menyerupai seberkas kerah dengan ketebalan bervariasi antara 15-20 sel di koronl hingga 1-2 sel di apikal1
C.Saliva
Saliva mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut seperti fungsi lubrikasi,aliran saliva yang memberi efek self cleansing dalam rongga mulut,serta adanya berbagai substansi anti bakteri seperti IgA,lizosim,dan laktoperidase.
Seperti cairan crevikular gingival,saliva terdiri dari antibody yang bersifat reaktif terhadap terhadap flora normal dalam rongga mulut.Walaupun didalam saliva juga ditemukan Imunoglobin G dan IgM,tapi jenis imonoglobin yang terbanyak adalah imunoglobin A,sedangkan IgG prevalensinya lebih banyak pada cairan crevicular gingival(GCF).Kelenjar saliva mayor dan minor berperan pada sekresi IgA,disamping memproduksi IgG dan IgM dalam jumlah yang kecil.
Sebagai tambahan dari sel epitel deskuamasi,saliva mengandung semua jenis leukosit,dimana sel PMN merupakan sel utama.Jumlah sel PMN bervariasi antara tiap orang dan dalam waktu tertentu,dan biasanya meningkat pada kasus gingivitis.sel PMN mencapai rongga mulut melalui sulkus gingival.Sel PMN yang terdapat dalam saliva kadang-kadang disebut sebagai orogranulosit,dan tingkat perpindahannya ke dalam rongga mulut disebut orogranulosit migrate rate.Beberapa peneliti beranggapan bahwa tingkat perpindahan ini berkorelasi dengan berbagai inflamasi,sehingga dapat dijadikan sebagai indeks penyakit gingivitis yang akurat.3
Peranan saliva dalam patologi penyakit periodontal.
Saliva sangat berpengaruh pada inisiasi,maturasi dan metabolisme plak.aliran dan komposisi saliva juga berpengaruh pada pembentukan kalkulus,penyakit periodontal,dan karies.Pemindahan kelenjar saliva pada hewan penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dari insiden karies gigi dan penyakit periodontal.
Pada manusia,peningkatan penyakit inflamasi gingival,karies gigi,tingkat kerusakan gigi yang cepat yang disertai dengan karies servikal dan sementum biasanya merupakan akibat dari penurunan sekresi dari kelenjar saliva(xerostomia).Xerostomia ini disebabkan oleh beberapa faktor,diantaranya sialolitiasis,sarkoidosis,sjogren’s syndrome,penyakit mikulicz,radiasi,dan operasi pada kelenjar saliva.3
Ada sejumlah mekanisme yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan benda asing dan toksin ,termasuk infeksi karena bakteri.Mekanisme-mekanisme ini dapat dikelompokkan menjadi :
1. Mekanisme non-spesifik.
2. Mekanisme yang spesifik terhadap protein asing yang disebut antigen,yang merangsang sistem imun.3

A.Mekanisme perlindungan non-spesifik
Ada lima mekanisme perlindungan non-spesifik.
1. Keseimbangan bakteri.
Rongga mulut dapat dianggap suatu ekosistem yang memiliki keseimbangan.Gangguan keseimbangan paling sering terjadi setelah fase penggunaan antibiotika yang cukup lama yang menekan beberapa tipe bakteri dan memungkinkan tipe bakteri lainnya tumbuh sampai merusak jaringan,misalnya produksi infeksi jamur kandida setelah(thrush) setelah penggunaan beberapa antibiotik.
Mekanisme aksi bakteri :
1. Invasi
Banyak bakteri yang melekat ke permukaan gigi di sekitar gingival dalam jangka waktu yang lama hingga membuat jaringan terpapar produk toksin yang dihasilkan.
2. Agen sitotoksik
Substansi lipopolisakarida yang terdapat dalam dinding sel bakteri gram negative dapat menjadi penyebab lansung nekroses jaringan, selain sebagai pencetus terjadinya proses inflamasi dengan mengaktifkan system komplemen
3. Enzim
- Enzim kolagenase
Elemen utama pembentuk gingival dan ligament periodontal
- Enzim Hialuronidase
Faktor yang mempermudah peningkatan permiabilitas jaringan
- Enzim kondroitinase
Polisakarida untuk melekatkan jaringan
-Protease
Merusak protein kolagen dan menambah permiabilitas kapiler
4. Aksi gabungan3
2.Integritas permukaan.
Integritas permukaan dari kulit dan membrane mukosa termasuk gingival dapat dipertahankan melalui proses penggantian epithelium yang terus menerus dan deskuamasi lapisan permukaan.Kedua aktivitas ini seimbang sehingga ketebalan epithelium akan tetap konstan.
3. Enzim dan cairan permukaan.
Semua permukaan vital dibasahi oleh cairan yang merupakan produk dari glandula permukaan dan mengandung substansi yang dapat menyerang benda asing seperti misalnya asam lambung,lizosim dalam air mata yang membasahi bola mata dan sebum dari folikel kulit rambut.Saliva membasahi mukosa mulut dan mengandung substansi antibakteri.Eksudat cairan gingival mengalir melalui epithelium jungsional ke leher gingival dan cairan ini mengandung leukosit fagositik dan enzim-enzimnya
4. Fagositosis.
Sel-sel tertentu dalam aliran darah dan jaringan mampu menghancurkan dan menghilangkan benda asing.Kedua sel fagosit yang terpenting adalah leukosit polimorfonuklear dan makrofag.
5. Reaksi Inflamasi
Reaksi inflamasi dirangsang oleh trauma jaringan dan infeksi dan dapat menimbulkan perubahan pada mikrosirkulasi local.Keadaan ini akan menimbulkan hyperemia,kenaikan permeabilitas vaskuler,dan pembentukan cairan serta eksudat selular.Dengan ini protein serum dan sel fagositik akan berkumpul di sekitar daerah iritan.3
B.Mekanisme Perlindungan spesifik-sistem imun

Manusia mempunyai ketahanan dan sistem penyerang yang disebut imun.Sistem ini dapat melindungi tubuh terhadap serangan bakteri,virus dan sel-sel kanker.Sistem ini mempunyai tiga karasteristik
1. Dapat saling membedakan baik,antara sistem itu sendiri atau musuh-musuhnya,misalnya antara sistem dan non-sistem sehingga tidak saling menyerang.
2. Sistem pertahanan mengandung elemen spesifik terhadap antigen tertentu.Ini dimungkinkan karena masing-masing antigen mempunyai susunan kimia permukaan yang khas.
3. Sistem mempunyai memori.Kontak pertama dengan akan menhasilkan respon primer dimana limfosit yang masih murni(sel utama pada sistem imun) akan berproliferasi dan menjadi matang,dan antigen akan dimasukkan ke memori sehingga pada kontak selanjutnya akan menghasilkan respon sekunder yang sudah dipersiapkan.3

Patologi Periodontal
Jaringan periodonsium terpapar dua faktor lingkungan :
1. Sistem mekanis dimana berbagai stress mastikasi menyebabkan modulasi terus menerus jaringan ligamentum periodonsium,tulang alveolar dan sementum.
2. Faktor oral,terutama ekosistem bakteri dari leher gingival.
Pada keadaan sehat jaringan periodontal mematabolisme dan berfungsi normal dalam keadaan seimbang dengan kedua keadaan tersebut diatas .Jaringan periodontal dapat mengalami berbagai perubahan patologi,inflamasi,degenerasi dan neoplasma.Jaringan juga dapat terpapar penyakit autoimun.
Inflamasi sejauh ini merupakan bentuk patologi periodontal yang paling umum.Keadaan bila terbatas pada gingival,disebut gingivitis,atau mengenai jaringan periodontal yang lebih dalam;peridontitis.Inflamasi dapat akut atau kronis.Sesuai dengan definisinya,inflamasi akut dapat timbul mendadak,sakit dan berdurasi singkat.Inflamasi kronik timbul lebih lambat,jarang terasa sakit dan berdurasi lama.Gingivitis akut biasanya disebabkan karena infeksi atau trauma tertentu.Periodontitis akut dapat terjadi setelah gigi terkena benturan atau terjadi sebagai komplikasi dari periodontitis kronis.Gingivitis kronik dan periodontitis kronis adalah tahap lanjutan pada penyakit periodontal kronik,dan walaupun inflamasi gingival pada dasarnya merupakan pemicu periodontitis kronis,perkembangan ini tidak diinginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar